Category: Puisi

Bersua

Kami paham, kami siapa Kami sadar, kami tak banyak harta Namun, bukanlah harta yang kita pandang Kami paham betul singgasana kalian Namun, kalian lupa dengan kerasnya hati kalian Keras tanpa ada kepedulian.. Semakin mengeras… Hingga tak peduli berjuta-juta bisikan Menggema dihadapan kalian Pejuang demokrasi meluncurkan aksi di jalan Walau terkadang tangan para petinggi menghadang Demi secerca harapan, Kami rela turun, membuka telinga-telinga wakil yang jadi...

Read More

Terkenang

    Terkenang Waktu tetap berjalan bagaikan arus air Masa masa yang mencekam Masa masa yang mengancam Menjadikan para pribumi tertindas benda hitam terlemparkan begitusaja di segala arah Tanpa ada pamit Peluru tajam mengoyak badan mereka Dengan tanpa belas kasihan Kerja paksa bukanlah keinginan, mereka bekerja hanya untuk menghidupi para BANGSAT itu!!!   Saat ini, bangsa kita telah merdeka Saat ini, indonesia telah merdeka Terlahirnya bangsa yang merdeka terwujudkan oleh jasa para pahlawan. Jiwa jiwa pemberani datang dengan kemurahan hatinya. Biarpun tetesan darah bercucuran tanpa henti Sekalipun melenyapkan nyawa hanya demi satu kata “MERDEKA” TERIMAKASIH PAHLAWAN TANPA JASA....

Read More

LULUH LANTAH (Hari Buruh)

Jiwa meronta, gelisah, goyah, tak terarah Resah, tercabik-cabik, bagai puing kehilangan bentuk Lemah, bersandar pada ranting yang patah, Pasrah merunduk sujud dalam hamparan sajadah.   Hari ini kami berkumpul  di bawah teriknya mentari Diantara rerumputan dan pagar besi berduri yang menjadi tirani Lemas tertindas, luruh, lusuh di bawah Bayang-bayang kelabu para penindas Manajemen kapitalis yang culas feodallistis   Waduh celaka apa dikata Ketika hati tersadar terlempar angan dalam mimpi menelan bulan besi Menelan limbah industri bersama dokumen-dokumen pengangguran Buruh-buruh muda membungkuk pada mesin Mati sebelum waktunya, menelan kesesakan jembatan pejalan kaki   Hidup bergelimang karat Tak bisa menelan seakan...

Read More

GADIS Delusi

Sedikit berkulit gelap, sedikit gila Gemetar seperti daun dalam kemarahan Orang yang mendengar tentangmu, Meskipun secara kebetulan.   Dia menutup rapat matanya dibawah sinar mentari Yang mungkin mengambil gumpalan kehidupan disuatu tempat Bahkan ketika matanya sedikit basah Ada kekuatan dalam bicaranya   Tawanya tidak seperti itu? Melayang begitu saja dalam kata Yang akan mencair malam hari Katakan kepadaku  jika kamu menemukan gadis itu...

Read More

Hari pekat pahit seperti kopi

Hari pekat pahit seperti kopi Alunan Jazz yang tersesat ditengah jalan Memuja sedikit dengan lampion temaram Dinginnya malam memerahkan pipiku Sedikit lagi aku akan jatuh cinta Pria bermata tajam dengan tangannya yang besar dan hangat Yang tengah kunikmati senyumnya yang hangat ditengah dingin Tawanya, kenapa bisa begitu membuatku melayang Jatuh cinta tak semudah membalik tangan Dan kopi pekatku sebentar lagi akan hilang Alunan Jazz itu kini kian temaram Lagi hilang dimakan waktu Detiknya, menitnya, dan deretan jamnya yang bosan Kamu berkata : Aku mencintaimu...

Read More