Category: Cerpen

#KesejahteraanRakyat

“Lama banget busnya datang,” keluh rasuli karena bus yang dia tunggu belum juga tiba. Bus yang mengangkut sahabatnya dari pelosok desa. Mereka membuat janji bertemu di terminal bungurasih. Karena lelah menunggu dia duduk di halte. Terik matahari menyengat ubun-ubun rasuli. “Tau gini tadi berangkat pas mendung aja” rasuli berbicara sendiri. Ibu-ibu yang sedang duduk bersamanya kemudian menoleh karena ucapan rasuli. “Oh ya sekarang musim kemarau, mana ada salju turun” rasuli mendongak ke langit sambil mengipaskan kerah bajunya karena gerah. “Ibu, dirumah ibu ndak ada salju turun ?” Rasuli bertanya kepada ibu-ibu yang memakai kerudung berwarna krem dengan gamis coklat...

Read More

LEBIH MULIA, TIKUS TROTOAR

Tersapu angin, dua lembar koran bekas itu akhirnya jadi sasaran empuk untuk alas tidurku malam ini. Dingin, mengitari seluruh trotoar jalan, emperan toko, dan segala jalan malam yang telah menjadi tempat istirahat termewah untuk manusia-manusia macam aku. Deru suara sedan mewah, truck gandeng, dan kendaraan-kendaraan pemakan jalan yang lain, sudah mulai bisa dihitung dengan jari. Beberapa lentera berlistrik sinar surya pun mulai meredup satu demi satu. Tapi tidak dengan aku, warga negara Indonesia dengan jabatan pemulung. Bergandeng dengan dua partner terbaik dalam pekerjaanku, jono dan anto. Meski udara kian mengigilkan seluruh elemen tubuh kami yang kian keronta, itu tidak...

Read More

MUARA ARUS BALIK

Detik demi detik tak mampu lagi menahan kerinduan yang telah mencapai puncak luapan yang tiada tara. Keputusanku jatuh untuk menuruti hawa nafsu ini, walau aku tahu itu bukanlah suatu kebaikan dan bukan pula suatu keburukan. Kerinduan pada senyum manis serta buaian manja yang beberapa bulan terakhir tak ku dapatkan, juga kerinduan pada sang tuan penghuni desa tempat ku di lahirkan. Untuk kali ini entah mengapa bahagia sangat meluap pada diriku. Tidak hanya di hati, bahkan wajahpun juga menunjukkan ekspresi yang mendukung hal tersebut. Tidak dengan teman-teman ku, mereka melepasku dengan muka muram durja. Aku tau mengapa demikian, kalaupun aku...

Read More

Secuil Syukur terbit bersama mentari

Hari yang sama sepanjang tahun aku lewati dengan monoton tanpa ada lika-liku hidup yang menarik. Pagi saat mentari bangun dari lelapnya malam biasanya aku bangkit dari tidur melangkah ke dalam kamar mandi untuk mandi. Iya Mandi… mau ngapain coba? Naik ke bukit jeddih lalu turun pakai flying fox? Buru-buru sarapan sekedar mengganjel perut dengan susu sereal yang tidak perlu aku sebutkan merknya mungkin sudah tahu lah ya. Jam berdenting 6 kali artinya sudah waktunya untuk bergegas berangkat kerja. Oh iya, Namaku Lutfi 24 tahun bekerja sebagai staf administrasi bagia, nanti aku jelaskan. Seperti hari-hari monoton lainnya aku jalan kaki ke jalan raya menuju ke pelabuhan kamal untuk naik kapal keberangkatan pertama. Mendung berlinang awan abu-abu tak sedikit tampak warna kebiruan. Aku melihat daerah bagian utara di sekitar daerah telang cerah-cerah saja. Memang biasanya begitu, kalau di kamal hujan di telang tidak dan sebaliknya. Pernah pulang dari bangkalan berhenti di telang karena rintik hujan berjatuhan, pakai jas hujan, eh malah di kamalnya terang benderang. Naik angkot tua catnya warna biru sedikit mengelupas kulihat supirnya juga sudah ekhemm tua. Mungkin mereka lahirnya barengan tapi tidak dengan ibu yang sama. Iya kan? Lalu siapa yang melahirkan angkot? Istrinya bumblebee? Di loket tiket aku turun, beli tiket penyeberangan dari pelabuhan kamal – pelabuhan tanjung perak. Terlihat bapak-bapak penjual Koran menawariku kabar berita yang masih hangat untuk dibaca. Ia menyodorkan beberapa Koran tanpa berbicara...

Read More

RINJANI

Pada terik matahari yang panas, di tengah-tengah padang rumput yang hijau. Duduklah seorang gadis kecil pemegang tongkat. Ia mengenakan kaos polos berwarna hijau yang longgar dan sedikit lusuh. Bongkahan batu pun menjadi tempatnya bersinggah. Tak jauh dari anak itu berada, ada segerombolan domba yang tengah menikmati rumput hijau yang segar. Hanya dengan angin semilir yang menemani si gadis berjaga. Dengan kamera bututku yang tergantung di leher, aku berjalan menghampirinya. Sesekali ku ambil gambarnya. Wajah yang sangat Indonesia sekali. Raut wajah mungilnya terkadang menampakkan ekspresi berubah-ubah. Wajah yang letih, kesal, cemberut, tertawa lepas, dan masih banyak ekspresi yang di ulaskannya. Matanya terfokus dengan alis yang saling bertaut miliknya, menyambutku dengan heran. Aku berjongkok di hadapannya. Dan hal itu membuatnya bertambah bingung. “Ingin es krim?” tanyaku Gadis kecil itu, tampak ingin mengambil apa yang ku tawarkan. Tapi ia masih saja bungkam. “Kamu akan mendapatkannya secara percuma jika kamu tidak keberatan memberitahuku siapa namamu, boleh ?” Matanya bergantian menatapku dengan es krim di tanganku. Wajahku menampakkan seulas senyum tipis. “Namaku Rinjani.” Gumamnya pelan. Senyum di wajahku merekah sedikit lebar. Aku memenuhi ucapanku, yang akan memberikan es krim padanya setelah ia memberitahuku siapa namanya. Nama yang cantik yang sangat cocok dengan wajah Indonesianya. Tapi sayang, gadis kecil sepertinya sedang menjaga domba di sini. Sendirian. Di tengah teriknya panas matahari. Bukankah anak seusianya kini harus sekolah. “Milikmu rinjani ?” tanyaku dengan menatapnya yang antusias...

Read More