Category: Cerpen

FEBRUARI SERTA BIAS HUJAN YANG ADA DI DALAMNYA

Saat itu februari, dan rembulan diangkasa sedang menyabit dengan sudut sembilan puluh derajatnya. Serta hujan yang turun dengan begitu indahnya, seolah menutupi ratapan kesedihan diantara kita. Juga tetes air mata yang jika tiada bias air hujan itu sangat nyata adanya. Tiada salam perpisahan atau pelukan serta kecupan manja saat itu. Bagaimana mungkin ada, toh kereta ini ialah kereta terakhir untuk menuju kota provinsi tempatku menuntut ilmu beberapa tahun kemudian. Oleh sebabnya aku merutuki stasiun ataupun tempat-tempat yang menjadi pemisah banyak insan lainnya. Titik pertemuan pertama kita, kita habiskan untuk menikmati keindahan bentangan permadani semesta yang sangat alami adanya. Kau...

Read More

#KesejahteraanRakyat

“Lama banget busnya datang,” keluh rasuli karena bus yang dia tunggu belum juga tiba. Bus yang mengangkut sahabatnya dari pelosok desa. Mereka membuat janji bertemu di terminal bungurasih. Karena lelah menunggu dia duduk di halte. Terik matahari menyengat ubun-ubun rasuli. “Tau gini tadi berangkat pas mendung aja” rasuli berbicara sendiri. Ibu-ibu yang sedang duduk bersamanya kemudian menoleh karena ucapan rasuli. “Oh ya sekarang musim kemarau, mana ada salju turun” rasuli mendongak ke langit sambil mengipaskan kerah bajunya karena gerah. “Ibu, dirumah ibu ndak ada salju turun ?” Rasuli bertanya kepada ibu-ibu yang memakai kerudung berwarna krem dengan gamis coklat...

Read More

LEBIH MULIA, TIKUS TROTOAR

Tersapu angin, dua lembar koran bekas itu akhirnya jadi sasaran empuk untuk alas tidurku malam ini. Dingin, mengitari seluruh trotoar jalan, emperan toko, dan segala jalan malam yang telah menjadi tempat istirahat termewah untuk manusia-manusia macam aku. Deru suara sedan mewah, truck gandeng, dan kendaraan-kendaraan pemakan jalan yang lain, sudah mulai bisa dihitung dengan jari. Beberapa lentera berlistrik sinar surya pun mulai meredup satu demi satu. Tapi tidak dengan aku, warga negara Indonesia dengan jabatan pemulung. Bergandeng dengan dua partner terbaik dalam pekerjaanku, jono dan anto. Meski udara kian mengigilkan seluruh elemen tubuh kami yang kian keronta, itu tidak...

Read More

MUARA ARUS BALIK

Detik demi detik tak mampu lagi menahan kerinduan yang telah mencapai puncak luapan yang tiada tara. Keputusanku jatuh untuk menuruti hawa nafsu ini, walau aku tahu itu bukanlah suatu kebaikan dan bukan pula suatu keburukan. Kerinduan pada senyum manis serta buaian manja yang beberapa bulan terakhir tak ku dapatkan, juga kerinduan pada sang tuan penghuni desa tempat ku di lahirkan. Untuk kali ini entah mengapa bahagia sangat meluap pada diriku. Tidak hanya di hati, bahkan wajahpun juga menunjukkan ekspresi yang mendukung hal tersebut. Tidak dengan teman-teman ku, mereka melepasku dengan muka muram durja. Aku tau mengapa demikian, kalaupun aku...

Read More

Secuil Syukur terbit bersama mentari

Hari yang sama sepanjang tahun aku lewati dengan monoton tanpa ada lika-liku hidup yang menarik. Pagi saat mentari bangun dari lelapnya malam biasanya aku bangkit dari tidur melangkah ke dalam kamar mandi untuk mandi. Iya Mandi… mau ngapain coba? Naik ke bukit jeddih lalu turun pakai flying fox? Buru-buru sarapan sekedar mengganjel perut dengan susu sereal yang tidak perlu aku sebutkan merknya mungkin sudah tahu lah ya. Jam berdenting 6 kali artinya sudah waktunya untuk bergegas berangkat kerja. Oh iya, Namaku Lutfi 24 tahun bekerja sebagai staf administrasi bagia, nanti aku jelaskan. Seperti hari-hari monoton lainnya aku jalan kaki ke jalan raya menuju ke pelabuhan kamal untuk naik kapal keberangkatan pertama. Mendung berlinang awan abu-abu tak sedikit tampak warna kebiruan. Aku melihat daerah bagian utara di sekitar daerah telang cerah-cerah saja. Memang biasanya begitu, kalau di kamal hujan di telang tidak dan sebaliknya. Pernah pulang dari bangkalan berhenti di telang karena rintik hujan berjatuhan, pakai jas hujan, eh malah di kamalnya terang benderang. Naik angkot tua catnya warna biru sedikit mengelupas kulihat supirnya juga sudah ekhemm tua. Mungkin mereka lahirnya barengan tapi tidak dengan ibu yang sama. Iya kan? Lalu siapa yang melahirkan angkot? Istrinya bumblebee? Di loket tiket aku turun, beli tiket penyeberangan dari pelabuhan kamal – pelabuhan tanjung perak. Terlihat bapak-bapak penjual Koran menawariku kabar berita yang masih hangat untuk dibaca. Ia menyodorkan beberapa Koran tanpa berbicara...

Read More